KISAH RASULULLAH

 

KISAH PERJALANAN                                                                                                                       
RASULULLAH

Kayla Salwa Cahya Budi

BAB I. MASA KELAHIRAN RASULULLAH

Di kala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidupnya, lahirlah ke dunia dari keluarga yang sederhana di Kota Mekkah, seorang bayi yang kelak membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban dunia. Bayi itu yatim, ayahnya yang bernama Abdullah meninggal ±7 bulan sebelum dia lahir. Kehadiran bayi itu disambut oleh kakeknya Abdul Muthalib dengan penuh kasih sayang dan kemudian bayi itu di bawanya ke kaki Ka'bah. Di tempat suci inilah bayi itu diberi nama Muhammad suatu nama yang belum pernah ada sebelumnya.

Nabi Muhammad SAW lahir dari kandungan Bundanya pada tanggal 29 Agustus, hari Senin tanggal 12 Rabi'ul-awwal tahun Gajah, bertepatan dengan tahun 571 M, di Kota Mekkah Al-Mukaromah. Adapun sebab dinamakan tahun kelahiran nabi itu dengan tahun Gajah, karena pada tahun itu, Kota Mekkah diserang oleh suatu pasukan tentara orang Nasrani yang kuat di bawah pimpinan Abrahah, gubernur dari kerajaan Nasrani Abbasiyah, yang memerintah di Yaman, dan mereka bermaksud menghancurkan Ka'bah. Pada waktu itu Abrahah berkendaraan gajah. Belum lagi maksud mereka tercapai, mereka sudah dihancurkan oleh Allah S.W.T dengan mengirimkan burung ababil. Oleh karena pasukan itu mempergunakan gajah, maka orang Arab menamakan bala tentara itu pasukan bergajah, sedang tahun terjadinya peristiwa ini disebut Tahun Gajah.

Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari Qushai pahlawan suku Quraisy yang telah berhasil menggulingkan kekuasaan khuza'ah atas Kota Mekkah. Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim Al-Quraisy Al 'Arabi, dari keturunan Ismail bin Ibrahim Kekasih Allah. Ibunya bernama Aminah binti Wahab dari kabillah Bani Zuhrah Al-Quraisyiyah.

Sudah menjadi kebiasaan pada orang-orang Arab Kota Mekkah, terutama pada orang-orang yang tergolong bangsawan, menyusukan dan menitipkan bayi-bayi mereka kepada wanita ba'diyah (dusun di padang pasir) agar bayi-bayi itu dapat menghirup hawa yang bersih, terhindar dari penyakit-penyakit kota dan supaya bayi- bayi itu dapat berbicara dengan bahasa yang murni dan fasih. Demikianlah halnya Nabi Muhammad SAW Beliau diserahkan oleh ibunya kepada seorang perempuan yang baik Halimah Sa'diyah dari Bani Sa'ad kabillah Hawazin, tempatnya tidak jauh dari kota Mekkah. Di perkampungan Bani Sa'ad inilah Nabi Muhammad SAW diasuh dan dibesarkan sampai berusia 5 tahun. Ketika berusia 6 tahun, dia menjadi anak yatim piatu. Seakan-akan Allah ingin melaksanakan sendiri pendidikan Nabi Muhammad.

Setelah Aminah meninggal, Abdul Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Nabi Muhammad. Namun dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal karena renta. tanggung jawab selanjutnya beralih kepada pamannya, Abu Thalib. Seperti juga Abdul Muthalib Dia sangat disegani dan dihormati orang Quraisy dan penduduk Mekkah secara keseluruhan, tetapi dia miskin.

Dalam usia muda, Nabi Muhammad sebagai penggembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekkah. Melalui kegiatan penggembalaan ini dia menemukan tempat untuk berpikir dan merenung. Pemikiran dan perenungan itu membuatnya jauh dari segala pemikiran nafsu duniawi, sehingga ia terhindar dari berbagai macam noda yang dapat merusak namanya, karena itu sejak muda ia sudah dijuluki Al-Amin, orang yang terpercaya.

Ketika pamannya, Abu Thalib memutuskan untuk pergi ke Syam dalam misi perdagangan, pada waktu itu usia Nabi Muhammad telah mencapai sembilan tahun. Ketika pamannya mau berangkat, tiba-tiba saja Nabi Muhammad bergantungan kepada pamannya dan tidak mau berpisah, yang menyebabkan pamannya berkata, "Aku akan membawanya bersamaku ke Syam dan dia tidak boleh berpisah denganku." Setelah sampai di sebuah kota bernama Bashrah di wilayah Syam, di tempat itu dikenal ada seseorang pendeta yang selalu beribadah di tempat peribadatannya. Mereka memutuskan untuk berteduh di bawah pohon dekat tempat peribadatannya. Pendeta itu memperhatikan awan yang menyertai perjalanan mereka dan dahan pohon yang memayungi Nabi Muhammad sehingga dia berteduh di bawahnya dari terik matahari. Pendeta itu penasaran dengan apa yang dia saksikan, sehingga dia mengundang mereka semua untuk hadir dalam undangan makan siang. Mereka semua hadir kecuali Nabi Muhammad karena usianya masih sangat muda. Setelah mereka hadir dan Buahira tidak menemukan tanda-tanda yang dia ketahui, maka pendeta Buhaira berkata "Apakah kalian semua kau telah hadir?" mereka menjawab, "semua yang pantas menghadiri undanganmu telah hadir kecuali satu. Dia adalah anak kami yang masih kecil." Buhaira berkata, "Jangan kelakuan itu, tidak boleh ada yang ketinggalan dalam undanganku ini, tolong panggil dia!"

Setelah Nabi Muhammad hadir, dia memperhatikannya dengan sangat seksama, meneliti sesuatu dari badannya, yang pada akhirnya dia menemukan satu ciri kenabian pada badan Nabi Muhammad. Buhaira memperhatikan pundaknya dan menemukan stempel kenabian di atasnya sesuai dengan ciri-ciri yang selama ini dia ketahui. Setelah selesai Buhaira mendatangi Abu Thalib dan bertanya-tanya tentang Nabi Muhammad, kemudian menyuruh mereka agar segera kembali karena takut orang Yahudi menemukan anak itu dan akan mencelakainya. Pendeta itupun berkata bahwa kelak keponakan Abu Thalib akan menjadi orang penting di negerinya.

Pada usia remaja, Rasulullah ikut serta bersama dengan penduduk Mekkah dalam beberapa perkara-perkara penting, diantaranya adalah Perang Fijar, yaitu perang antara Quraisy dan Qais pada bulan-bulan haram, dan kesepakatan al-Fudhul, yaitu orang-orang Quraisy melakukan kesepakatan bahwa tidak didapatkan seseorang pun di Mekkah Kecuali mereka akan menolongnya.

Ketika Nabi Muhammad berusia 25 tahun, Nabi berangkat ke Syam untuk melakukan perdagangan milik Khadijah. Sekembalinya dari Syam, Khadijah memintanya untuk menikahinya karena Khadijah tahu bahwa Nabi Muhammad adalah seorang laki-laki yang memiliki sifat Kesatria, jujur, dan amanah. Khadijah adalah seorang wanita yang terkenal dengan kecerdasannya, tanggap dan peka. Khadijah kemudian mengutus seseorang untuk menemani nabi dengan pesan "Wahai anak pamanku, aku simpati dengan kepribadianmu yang memiliki kharisma dan kejujuran yang tinggi, dan berasal dari keturunan terhormat; amanah, berakhlak mulia dan berkata jujur." Kemudian Khadijah menawarkan diri untuk dijadikan istrinya.

Menjelang usianya yang ke-40, dia sudah terlalu biasa memisahkan diri dari pergaulan masyarakat berkontenplasi ke Gua Hira', beberapa kilometer dari Utara Mekkah. Disana mula-mula, berjam-jam kemudian berhari-hari bertafakur. Pada tanggal 17 Ramadan tahun 611 Masehi, Malaikat Jibril muncul di hadapannya, menyampaikan wahyu Allah yang pertama.

Dengan turunnya wahyu pertama itu, berarti Muhammad telah menjadi Nabi. Dalam wahyu pertama ini belum diperintahkan untuk menyeru manusia kepada suatu agama.


BAB II. DAKWAH NABI MUHAMMAD DI MEKKAH

Dengan turunnya wahyu yang kedua, yaitu Q.S Al-Muddasir /74:1-7, Rasulullah SAW mulai berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Nabi mengajak orang-orang yang terdekat dengan-Nya.

Tujuannya, agar mereka lebih dulu percaya kepada seruannya dan mengikutinya. tempat yang beliau pilih untuk berdakwah adalah rumah Al-Arqam Bin Abil Arqam Al- Akhzumi. Orang-orangnya yang pertama kali memeluk Islam atau yang dikenal Assabiqunal-Awwalun, mereka adalah Siti Khadijah, Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harisah, dan Ummu Aiman. Selain yang tersebut, berkat bantuan Siti Khadijah dan Abu Bakar Siddiq, dari hari ke hari bertambahlah orang-orang yang beriman kepada seruan beliau, baik pria maupun wanita. Sahabat pria yang kemudian segera beriman, adalah; Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Mas'ud, Ammar bin Yasir, Yasir (bapak Ammar), Said bin Zaid, Amir bin Abdullah, Utsman bin Madlun, Qudamah bin Madlun, Abdullah bin Madlun, Khalid bin Sa'ad, dan yang lainnya. Sementara itu, para wanitanya adalah; Shafiyyah binti Abdil Muthalib, Lubabah binti Haris, Ummu Salamah (Istri Abu Salamah), Asma binti Abu Bakar, Asma binti Amies (istri Ja'far), Ratimah binti Khattab, Summiyah (ibu Ammar).

Setelah Nabi  Muhammad SAW berdakwah secara sembunyi-sembunyi, maka turunlah Wahyu yang ketiga, yaitu Q.S Al-Hijr /15:94-95; "Maka Sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya kami memelihara daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu)." (Q.S Al-Hijr /15:94-95).

Kemudian Nabi Muhammad SAW menerima wahyu lagi; "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang- orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (Q.S asy-Syuaral /26: 214-215).

Setelah Rasulullah SAW menerima wahyu tersebut, beliau mulai berdakwah secara terang-terangan. Pertama-tama, Nabi mengumpulkan seluruh sanak keluarganya di kaki gunung Safa untuk mengajak mereka beriman kepada Allah SWT. Akan tetapi, salah seorang pamannya, Abu Lahab, bersikap sinis dan tidak mau menerima dakwah Rasulullah SAW. Banyak cara yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy untuk menghambat dakwah Rasul, diantaranya mencoba menyuruh pamannya Abu Thalib untuk menghentikan dakwah keponakannya itu. Namun, Nabi Muhammad menolak dan mengatakan, "Demi Allah, meskipun seluruh anggota keluarga mengucilkanku, aku akan terus berdakwah menyebarkan agama Islam."

Kegagalan kafir Quraisy untuk menghambat dakwah Rasul, menjadikan mereka semakin marah dan emosi. Budak-budak mereka yang masuk Islam dibunuh dan disiksa. Seluruh pengikut Nabi selalu diancam dan diteror agar menolak ajakan Nabi Muhammad SAW. Abu Jahal, Paman Nabi Muhammad SAW menyewa orang Yahudi untuk mengejek dan mencaci maki Nabi dengan harapan ia berhenti berdakwah. Akan tetapi, justru akhirnya si Yahudi itu masuk Islam karena keluhuran akhlak Nabi.

Setelah kafir Quraisy gagal melakukan tekanan, mereka menawarkan harta benda, wanita, dan pangkat agar nabi mau meninggalkan dakwahnya. Kaum Quraisy mengutus Utbah bin rabiah untuk menawarkan hal-hal tersebut. Utbah mengatakan "Hai Muhammad! Jika kau menginginkan kekayaan, saya sanggup menyediakannya. jika kau menginginkan pangkat yang tinggi, Saya sanggup mengangkatmu menjadi raja. Jika kau menginginkan seorang wanita cantik, Saya sanggup mencarikannya dengan syarat kau berhenti melanjutkan dakwahmu." Nabi Muhammad SAW tidak bisa tertarik pada tawaran itu dan terus berdakwah.

Setelah kafir Quraisy gagal lagi, akhirnya mereka memboikot Nabi Muhammad SAW Bani Muthalib, dan Bani Hasyim. Karena pemboikotan ini, umat Islam terkurung di celah-celah Kota Mekkah bernama Syiib. Pemboikotan berlangsung selama tiga tahun dimulai pada ketujuh kenabian.

Undang-undang pemboikotan itu digantung di dinding Ka'bah penulisnya bernama Mansur bin ikrimah setelah 3 tahun undang-undang tersebut rusak karena dimakan rayap kemudian undang-undang tersebut dirobek oleh Zubair bin Umayyah Hisyam bin Amr muslim bin Adi Abu Bakar Syam dan jamaah bin Al Aswan mereka merasa kasihan yang siksaan kaumnya kada Bani Hasyim dan Bani Muthalib


BAB III. NABI MUHAMMAD DI MADINAH

Berbagai persoalan semasa berdakwah di kota yang dulu dikenal dengan Yatsrib ini berhasil diatasi oleh Rasulullah SAW. Pada puncaknya, beliau berhasil menaklukkan kota Madinah dan menjadikannya bagian dari wilayah kekuasaan Islam.

Mayoritas penduduk Madinah merupakan para pendatang yang bermukim di wilayah tersebut. Mereka terdiri dari dua kelompok besar, yaitu Arab dan Yahudi. bangsa Arab bermigrasi dari wilayah Selatan. Sedangkan, bangsa Yahudi datang dari wilayah utara. Bangsa Arab lebih mendominasi wilayah Madinah mereka terdiri dari dua kelompok besar, yaitu Bani Aus dan Bani khazraj. Meskipun dari bangsa yang sama, kedua kelompok tersebut sering terlibat dalam pertikaian dan peperangan untuk berebut kekuasaan di Madinah. Sementara itu, bangsa Yahudi lebih dikenal sebagai kelompok yang sombong. Mereka menganggap kelompoknya sebagai bangsa pilihan Tuhan. Kedua kelompok yang mendiami Madinah ini saling berebut pengaruh dan kekuasaan. Bahkan, keduanya saling mengancam untuk berperang dan saling usir dari Madinah.

Kedatangan Rasulullah SAW di Madinah pada 12 Rabiul-Awwal tahun pertama Hijriyah merupakan awal dari dimulainya dakwah. Ada empat substansi metode dakwah yang dilakukan Rasulullah pada periode Madinah yang meliputi pembinaan Aqidah, Ibadah, dan mu'allamah kaum muslim, pembinaan ukhuwah untuk menyatukan kaum muslim. Pembinaan kader-kader perjuangan untuk mempertahan- kan wilayah dakwah, dan memetakan pertahanan dan sosial untuk menjaga stabilitas Madinah.

Pada akhirnya, Rasulullah SAW berhasil menaklukkan Madinah dan memiliki pengikut yang setia untuk bersama-sama menyembah Allah SWT. Strategi dakwah Rasulullah SAW di Madinah yaitu:

1)  Membangun Masjid sebagai Pusat Kegiatan Dakwah

Rasulullah SAW bangun dua masjid yang dijadikan sebagai pusat kegiatan dakwah di Madinah, yaitu Masjid Quba' yang dibangun saat kedatangan pertama- nya dan Masjid Nabawi yang kemudian dijadikan untuk mendidik para sahabat nya dan mengatur pemerintahan

2)  Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar

Rasulullah juga mempersaudarakan dua kaum muslimin, yakni Muhajirin dan Anshar. Rasulullah SAW menganjurkan untuk kedua kaum tersebut untuk saling memupuk persaudaraan yang melarang adanya sentimen kekuasaan. Hal ini dilakukan untuk memperkuat umat Islam.

BAB IV. AKHLAK RASULULLAH

Penyabar : Pemberani : Setia/taat : Bijaksana :


Rasulullah SAW tetap bersabar menghadapi kaum Quraisy yang selalu menghalangi dakwah Rasul.

Rasulullah SAW tidak takut dengan segala ancaman dan hinaan dari orang-orang yang tidak mau mengikuti ajarannya.

Rasulullah SAW tetap berdakwah walau kaum kafir Quraisy menakut- kan baginda Rasul dengan harta benda, kekayaan, bahkan wanita.

Rasulullah SAW melakukan perjanjian dengan kawan Yahudi selama baginda Rasul berdakwah di Madinah.


BAB V. KESAN DAN PESAN

Kesan dan Pesan Setelah mempelajari kisah Nabi Muhammad yaitu :

Kesan : Saya sangat kagum dengan perjuangan dakwah Nabi Muhammad dan akhlak yang Nabi Muhammad miliki

Pesan : Semoga umat Islam dapat menjadikan Nabi Muhammad adalah panutan dalam kehidupan sehari-hari

Kesimpulan

Nabi Muhammad merupakan nabi dan rasul utusan Allah yang menyampaikan wahyu Allah kepada umat manusia. Nabi Muhammad merupakan seorang manusia yang memiliki perilaku atau akhlak yang sangat mulia. Nabi Muhammad selalu berperilaku dengan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari. Dalam salah satu ayat Alquran juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah suri teladan yang baik bagi semua umat manusia khususnya bagi umat Islam.







Comments

Kunjungan

Flag Counter