LAUTAN CERPEN
BANDA NEIRA DAN KEABADIANNYA

Di suatu pagi yang cerah, sekelompok remaja yang terbangun dengan rasa gembira yang memenuhi hati mereka. Mereka sudah lama bermimpi untuk bersama-sama mengunjungi tempat yang penuh keindahan dan sejarah. Tidak ada tempat yang lebih sempurna untuk merealisasikan impian mereka selain pulau Banda Neira.
Dengan semangat yang membara, para remaja yang sedari tadi mengemasi barang mereka bersiap-siap untuk perjalanan mereka yang akan berlangsung selama dua hari. Mereka terbangun di sebuah villa indah yang terletak di lereng bukit dengan pemandangan laut yang tiada tara. Rasa syukur dan kebahagiaan menyelimuti keberadaan mereka, yang tak mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Selama dua hari mereka menikmati keindahan Banda Neira. Mereka berkeliling melihat benteng-benteng tua, menjelajahi pantai-pantai yang asri, dan mengeksplorasi suasana pulau dengan berbagai wisata kuliner. Setiap momen mereka diabadikan dalam foto-foto yang tak terhitung jumlahnya, bagai sebuah bukti betapa mereka bahagia dalam perjalanan ini.
Namun, saat hari ketiga tiba, takdir yang tak dapat mereka tebak menanti mereka. Sang waktu berlalu begitu cepat, dan saatnya mereka harus meninggalkan Banda Neira. Dalam pesawat kembali ke kota mereka, mereka saling berbicara betapa indahnya perjalanan ini dan betapa berartinya waktu yang mereka habiskan bersama.
Mereka kemudian berinisiatif untuk meninggalkan pesan terakhir mereka di sebuah buku khusus yang mereka bawa dari Banda Neira. Jeslyna, yang tertua di antara mereka, dengan hati yang sedih dan sedikit terguncang menawarkan buku tersebut ke teman-temannya.
"Mari, kita semua menulis pesan terakhir kita di sini. Biarkan kenangan kita terukir untuk selamanya," kata Jeslyna dengan suara yang penuh cinta.
Dengan harapan dan cinta yang mendalam, satu per satu dari mereka menjadikan halaman kosong buku tersebut sebagai media untuk menyampaikan pesan dan kenangan mereka. Mereka menulis dengan penuh emosi, mengungkapkan betapa bermakna kita semua bersama di Banda Neira.
"ibarat air laut di pantai, meski ia kadang pasang dan surut. percayalah, rasa air laut itu tidak akan berubah" -Evelyn Aurora Alice
"memori kita tentang laut akan tetap bertahan walau jejak kaki di pasir pantai telah menghilang" -Anantaraya Rora Gavyana
"kadang cerah merah merekah layak nya harapan, namun bisa juga hitam seperti kenyataan" -Jeslyna Zoya Nazellya
"matahari mengajarkan kita bahwa setiap pertemuan yang hangat terdapat perpisahan yang indah" -Aluna Sagita Willa
"kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka" -Sang Hyang Widhi Zaskia
"terimakasih sudah datang dan pergi dengan meninggalkan kesan yang indah" -Gavesha Jeana Barison
"kita adalah awal dari bagian baru, dari cerita yang di tulis oleh sang fajar" - Aelina Yolanda Delisha
"indah tapi cuman sebentar" -Aksara Billy Lesmana
"nikmati masa kebersamaan kita karena waktu tak akan bisa di putar kembali" -Kevin Sagara Adhiyaksa
"bahwa yang indah tidak perlu datang lebih awal" -Januar Aslan Lucky Kalingga
"takkan selamanya kita terluka, takkan selamanya kita berduka" -Keanu Cakra Mahendra
"kali ini aku mau ceritanya berhasil. kita akan tetap terus bersama" -Argenta Lionz Shankara
itulah pesan-pesan yang mereka tulis dalam buku memori.
Mereka sudah hampir pulang namun, takdir berkata lain. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan mengerikan saat hendak mendarat di kota tujuan mereka. Sebagian dari mereka, dua belas remaja yang penuh impian dan harapan, pergi meninggalkan dunia ini tak lama setelah menyisipkan pesan-pesan terakhir mereka di buku.
Kevin adalah salah satu yang selamat dari kecelakaan itu. Saat ini, Kevin membawa buku itu dengan hati yang hancur ….
great, keep it up girl
ReplyDeleteTeruslah berimajinasi, dan tuangkan dalam karya yang luar biasa
ReplyDeleteKeren sekari
ReplyDeleteWaw
ReplyDeleteGambatte....teruslah berkarya
ReplyDeleteCantik sekali
ReplyDelete