Inovasi Guru: Peran Sosiodrama Dalam Memfasilitasi Pengenalan Diri
PERAN SOSIODRAMA DALAM MEMFASILITASI PENGENALAN DIRI TERKAIT BERBAGAI EMOSI PADA INDIVIDU PADA MURID KELAS VII E SMP KESATRIAN 1 SEMARANG
![]() |
| Carissa Octora Wandansari, S.Pd. |
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kecerdasan emosional pada masa remaja awal, di mana murid kelas VII
seringkali mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengekspresikan emosi secara
tepat. Masa transisi dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama menuntut
kemampuan adaptasi sosial yang tinggi, namun observasi awal di SMP Kesatrian
1 Semarang menunjukkan
adanya kecenderungan disregulasi emosi
pada murid kelas
VII E. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis peran metode sosiodrama dalam memfasilitasi pengenalan diri
terkait berbagai ekspresi emosi.
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan
Bimbingan Konseling (PTBK)
yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian terdiri dari seluruh
murid kelas VII E SMP Kesatrian 1 Semarang. Sosiodrama diterapkan sebagai
intervensi di mana murid memainkan peran dalam skenario situasi
sosial yang memicu berbagai spektrum
emosi seperti marah, sedih,
takut, dan bahagia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sosiodrama
secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan pengenalan diri murid. Melalui
teknik role-playing dan diskusi
setelah pementasan (debriefing), murid belajar mengidentifikasi sensasi fisik dan pikiran yang muncul bersamaan dengan ekspresi
emosi tertentu. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sosiodrama efektif
sebagai media refleksi diri yang interaktif, memungkinkan murid untuk
mengeksplorasi emosi dalam lingkungan yang aman, serta meningkatkan empati terhadap
ekspresi emosi orang lain di lingkungan sekolah.
Kata Kunci: Sosiodrama, Pengenalan Diri, Ekspresi Emosi,
Remaja, Bimbingan Konseling.

1.1 Latar Belakang
Pengenalan diri (self-awareness), khususnya yang berkaitan dengan emosi, merupakan aspek fundamental dalam kesehatan mental dan keberhasilan sosial-emosional individu. Kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, dan mengelola berbagai emosi—seperti marah, sedih, gembira, takut, atau jijik—adalah inti dari kecerdasan emosional (emotional intelligence). Individu yang kurang memiliki pemahaman terhadap emosinya sendiri cenderung mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, membangun hubungan interpersonal yang sehat, dan menghadapi tekanan hidup (stres).
Fenomena ketidakmampuan mengenali dan mengekspresikan emosi seringkali menjadi hambatan, terutama pada tahap perkembangan tertentu atau pada kelompok yang belum terbiasa dengan refleksi internal. Metode konvensional seperti ceramah atau diskusi sering kali kurang efektif karena emosi adalah pengalaman yang membutuhkan simulasi dan interaksi langsung.
Sosiodrama hadir sebagai metode yang berpotensi memberikan solusi. Sosiodrama merupakan teknik bermain peran yang melibatkan individu dalam merekonstruksi situasi sosial nyata atau hipotetis. Melalui permainan peran ini, individu ditempatkan dalam posisi emosional yang berbeda-beda, baik sebagai pemeran utama maupun sebagai pengamat. Proses ini secara tidak langsung memaksa individu untuk mengalami dan mengekspresikan emosi secara aman dan terstruktur, sekaligus mengamati bagaimana emosi tersebut memengaruhi orang lain. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana peran aktif sosiodrama dapat menjadi katalisator yang efektif dalam memfasilitasi pengenalan diri individu, khususnya dalam konteks pemahaman terhadap spektrum ekspresi emosi mereka.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, masalah dalam penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1. Rendahnya kemampuan sebagian individu dalam mengidentifikasi dan menamai emosi yang mereka rasakan (emotional labeling).
2. Kurangnya pemahaman individu mengenai berbagai ekspresi dan manifestasi emosi, baik pada diri sendiri maupun orang lain.
3. Kebutuhan akan metode intervensi atau pelatihan yang bersifat aktif, partisipatif, dan eksperiensial untuk meningkatkan pengenalan diri terkait emosi, di mana sosiodrama diduga memiliki potensi tersebut.
1.3 Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini memiliki fokus yang jelas dan dapat dilaksanakan secara terukur, maka masalah dalam penelitian ini dibatasi pada:
1. Fokus Variabel: Penelitian
ini hanya akan memfokuskan pada peran teknik sosiodrama sebagai variabel
independen terhadap peningkatan pengenalan diri terkait ekspresi emosi sebagai
variabel dependen.
2. Jenis Emosi: Pembahasan ekspresi
emosi dibatasi pada emosi dasar
dan sekunder yang relevan dengan skenario sosiodrama yang dirancang (misalnya: gembira, sedih, marah, cemas, kecewa).
3. Lokasi dan Subjek: Penelitian ini akan dilaksanakan pada Murid kelas 7E SMP Kesatrian 1 Semarang
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk
mendeskripsikan proses pelaksanaan sosiodrama dalam konteks pelatihan
pengenalan ekspresi emosi pada individu.
2. Untuk
menganalisis pengaruh atau peran sosiodrama secara signifikan dalam
memfasilitasi peningkatan kemampuan individu mengenali dan memahami ekspresi
emosi mereka.
3. Untuk mengidentifikasi jenis-jenis emosi yang paling efektif dipelajari atau dikenali melalui metode sosiodrama.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoretis maupun praktis:
1.5.1 Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memperkaya khazanah ilmu psikologi, khususnya dalam bidang psikologi pendidikan dan konseling, dengan
memberikan bukti empiris mengenai kontribusi teknik sosiodrama sebagai
pendekatan eksperiensial untuk pengembangan kecerdasan emosional dan pengenalan
diri.
1.5.2 Manfaat Praktis
1. Bagi Konselor/Guru BK: Dapat
dijadikan referensi dan panduan praktis dalam menerapkan teknik sosiodrama
sebagai metode intervensi atau pelatihan yang efektif untuk meningkatkan
kesadaran emosi siswa.
2. Bagi Individu (Peserta): Memberikan
pengalaman langsung dan terstruktur untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam
mengenali, memahami, dan pada akhirnya, mengelola berbagai ekspresi emosi.
PEMBAHASAN
A. Sosiodrama sebagai Metode Bimbingan Kelompok
1. Pengertian Sosiodrama
Sosiodrama merupakan salah satu teknik dalam bimbingan
kelompok yang bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah sosial melalui
kegiatan bermain peran. Menurut Romlah (2001), sosiodrama adalah permainan
peranan yang ditujukan untuk memecahkan masalah sosial yang timbul dalam
hubungan antar manusia. Dalam konteks pendidikan, sosiodrama digunakan untuk
membantu siswa memahami perasaan orang lain dan dirinya sendiri melalui situasi
konflik yang disimulasikan.
Berbeda dengan psikodrama yang lebih berfokus pada masalah
psikis mendalam individu, sosiodrama berfokus pada masalah-masalah sosial yang
umum dialami oleh kelompok usia tertentu, seperti konflik pertemanan, tekanan
sebaya, atau kesalahpahaman komunikasi yang relevan bagi siswa SMP.
2. Tujuan dan Manfaat Sosiodrama
Tujuan utama penggunaan sosiodrama dalam layanan bimbingan dan konseling adalah:
1. Pengembangan Empati: Membantu siswa merasakan apa yang dirasakan orang lain dalam situasi tertentu.
2. Katarsis Emosional: Memberikan saluran yang aman bagi siswa untuk melepaskan ketegangan emosi yang terpendam.
3. Latihan Keterampilan Sosial: Melatih cara berkomunikasi dan bereaksi yang tepat terhadap respon emosi orang lain.
3. Langkah-langkah Pelaksanaan Sosiodrama
Dalam pelaksanaannya di kelas VII E, metode ini mengikuti tahapan standar:
· Tahap Persiapan: Guru BK menyusun skenario cerita yang relevan dengan isu emosi siswa.
· Tahap Penentuan Peran (Casting): Memilih siswa yang akan menjadi lakon dan observer.
· Tahap Permainan (Action): Siswa memainkan
peran sesuai alur cerita namun dengan
improvisasi dialog yang mencerminkan emosi natural mereka.
· Tahap Diskusi dan Evaluasi (Sharing): Ini adalah tahap krusial. Seluruh kelas mendiskusikan apa yang terjadi, mengapa karakter bereaksi demikian, dan bagaimana perasaan mereka jika berada di posisi tersebut.
B. Pengenalan Diri (Self-Recognition)
1. Hakikat Pengenalan Diri
Pengenalan diri adalah kemampuan individu untuk melihat secara mendalam ke dalam dirinya sendiri, meliputi kelebihan, kekurangan, sifat, dan pola emosi yang dimilikinya. Bagi siswa SMP, pengenalan diri adalah pondasi dari pembentukan identitas. Tanpa mengenal diri, siswa akan kesulitan meregulasi tindakan dan ucapannya.
2. Jendela Johari (Johari Window)
Dalam konteks pengenalan diri, teori Johari Window (Joseph Luft & Harry Ingham) sangat relevan. Sosiodrama bekerja untuk memperluas "Daerah Terbuka" (Open Area) dan memperkecil "Daerah Buta" (Blind Area) serta "Daerah Tersembunyi" (Hidden Area).
· Melalui feedback teman saat sosiodrama, siswa menyadari ekspresi emosi yang mungkin selama ini tidak mereka sadari (Blind Area).
C. Ekspresi Emosi pada Remaja Awal
1. Pengertian Emosi
Emosi adalah reaksi kompleks yang melibatkan pengalaman subjektif, respon fisiologis, dan ekspresi perilaku atau wajah. Paul Ekman mengidentifikasi emosi dasar manusia yang meliputi: marah, jijik, takut, bahagia, sedih, dan terkejut.
2. Dinamika Emosi Siswa Kelas VII (Remaja Awal)
Siswa kelas VII berada pada fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju remaja (pubertas). Fase ini sering disebut sebagai masa storm and stress. Karakteristik emosi mereka meliputi:
· Instabilitas: Perubahan
suasana hati (mood swing) yang cepat.
· Intensitas Tinggi: Merasakan emosi (baik sedih maupun senang) secara berlebihan.
· Pencarian Validasi: Kebutuhan besar untuk diterima oleh teman sebaya (peer group).
Seringkali, ketidakmampuan mengenali jenis emosi membuat siswa mengekspresikannya dengan cara yang salah (misal: sebenarnya 'sedih' karena nilai jelek, tapi diekspresikan dengan 'marah' kepada teman).
D. Kerangka Berpikir
Penerapan sosiodrama di kelas VII E SMP Kesatrian 1 Semarang didasarkan pada alur berpikir bahwa pengenalan diri tidak bisa terjadi hanya dengan ceramah (kognitif semata). Siswa perlu "mengalami" emosi tersebut dalam simulasi yang aman.
1. Kondisi Awal: Siswa memiliki pemahaman yang rendah tentang emosi diri, sering terjadi kesalahpahaman antar teman, dan ekspresi emosi yang tidak terkontrol (agresif atau pasif).
2. Tindakan (Intervensi): Penerapan Sosiodrama dengan tema-tema kehidupan sekolah. Siswa mengalami peran dan mengamati peran.
3. Proses Internal: Terjadi refleksi diri saat sesi diskusi (debriefing). Siswa membandingkan apa yang mereka rasakan saat bermain peran dengan kehidupan nyata.
4. Kondisi Akhir: Meningkatnya kemampuan pengenalan diri (tahu apa yang dirasakan) dan kemampuan mengekspresikan emosi secara asertif/tepat.
E. Langkah-Langkah Metode Pemberian Layanan
Adapun langkah-langkah dalam pemberian layanan yang sudah
tercantum dalam Rencana Pemberian Layanan (RPL) sebagai berikut:
|
1. SPESIFIKASI |
|||
|
Topik layanan |
Mengelola Emosi, Membangun Persahabatan |
Komponen |
Layanan Dasar |
|
Sasaran |
Murid kelas
7 |
Bidang |
Pribadi |
|
Metode/ Teknik |
Focused Group
Discusion |
Semester/ TP |
Ganjil 2025/2026 |
|
2. TUJUAN |
Capaian layanan: Kematangan Emosi Tujuan: Mengelola ekspresi perasaan diri
sendiri secara tepat
atas dasar pertimbangan kontekstual. |
||
|
Area Pengembangan : Murid dapat
menampilkan ekspresi sesuai
dengan perasaan diri sendiri |
|||
|
3. DIMENSI PROFIL LULUSAN Keimanan dan ketakwaanterhadap Tuhan YME Kolaborasi Kreativitas |
|||
|
4.
DESAIN PEMBERLAJARAN PRAKTIK PEDAGOGIS a. Kemitraan
Pembelajaran : Murid
bekerja sama dalam
kelompok kecil untuk mengidentifikasi dan memecahkan
studi kasus tentang emosi. b. Lingkungan
Pembelajaran : Kelas
diatur dalam nyaman untuk
berdiskusi c. Pemanfaatan
Digital : Menggunakan proyektor untuk menampilkan video singkat atau
infografis tentang berbagai jenis emosi dan cara mengelolanya |
|||
|
5. LANGKAH KEGIATAN |
|||
|
Awal (berkesan, bermakna) |
a.
Guru menyambut murid dengan
hangat dan menanyakan kabar mereka. b.
Guru mengajak murid
untuk berdoa terlebih dahulu c.
Guru memberikan pertanyaan
pemantik, seperti "Apa yang kalian rasakan hari ini? Apakah
ada yang membuat kalian marah atau sedih?" d. Guru menyampaikan tujuan materi layanan. |
||
|
Inti (berkesadaran, bermakna, menggembirakan) |
A. Memahami (Berkesadaran, Bermakna) Guru menampilkan gambar tentang berbagai jenis emosi (bahagia, sedih, marah, cemas) dan mengajak murid mengidentifikasi emosi dalam gambar tersebut. Murid diajak untuk mengidentifikasi akar masalah yang memicu emosi tersebut. B. Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan) Murid dibagi menjadi kelompok kecil. Setiap kelompok diberikan studi kasus yang berkaitan dengan emosi. Mereka diminta untuk menetapkan masalah , mengembangkan solusi yang kreatif, dan mempresentasikan cara mengelola emosi dalam situasi tersebut. C. Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna) Guru memfasilitasi diskusi kelas untuk melihat ulang dan mengevaluasi solusi yang telah dikembangkan oleh setiap kelompok. Murid diajak untuk merefleksikan pentingnya |
||
|
|
mengelola emosi agar
tidak merugikan diri
sendiri atau orang lain. |
|
Penutup (berkesadaran) |
a.
Murid membuat kesimpulan tentang pentingnya
mengelola emosi. b.
Guru memberikan
apresiasi atas partisipasi aktif murid. c. Guru meminta
murid untuk membuat
komitmen pribadi tentang
cara mereka akan mengelola emosi diri sendiri di kehidupan sehari-hari |
|
6. EVALUASI |
|
|
Evaluasi Proses |
Guru BK memperhatikan proses layanan serta melakukan refleksi dari kegiatan layanan klasikal tersebut menggunakan lembar observasi. |
|
Evaluasi Hasil |
Murid mengisi angket evaluasi setelah mengikuti kegiatan layanan bimbingan klasikal, antara lain: suasana yang dirasakan, pentingnya topik yang dibahas, penerapan materi dalam kehidupan. |
HASIL PELAKSANAAN LAYANAN
A. Refleksi dan Hasil
Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dengan teknik sosiodrama di kelas VII E SMP Kesatrian 1 Semarang telah dilaksanakan sesuai dengan rancangan. Berikut adalah paparan hasil berdasarkan pengamatan proses dan evaluasi hasil:
1. Perubahan Pemahaman dan Kesadaran Diri (Kognitif)
Sebelum tindakan dilakukan, sebagian besar siswa kelas VII E kesulitan menamai emosi spesifik yang mereka rasakan. Mereka cenderung menggunakan kata umum seperti "kesal" atau "biasa saja".
· Hasil: Pasca-kegiatan sosiodrama, siswa mampu mengidentifikasi gradasi emosi yang
lebih kompleks. Siswa dapat membedakan antara "kecewa",
"tersinggung", "marah", dan "jengkel".
· Bukti: Dalam sesi debriefing, siswa mampu mengatakan, "Ternyata peran si A tadi marah bukan karena benci, tapi karena dia malu ditegur di depan umum.
2. Perubahan Sikap dan Ekspresi Emosi (Afektif)
Sosiodrama memberikan ruang aman (safe space) bagi siswa untuk mengekspresikan emosi tanpa takut dihakimi karena mereka sedang "bermain peran".
· Hasil: Siswa yang sebelumnya tertutup (introvert) menjadi lebih berani menampilkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh saat memerankan tokoh. Terjadi penurunan ketegangan di kelas VII E, di mana siswa menjadi lebih rileks menertawakan situasi canggung yang diperankan, yang sebenarnya adalah refleksi kehidupan nyata mereka.
3. Keterampilan Sosial (Psikomotorik)
· Hasil: Terbentuknya kohesivitas (kekompakan) kelompok. Siswa belajar menghargai teman yang sedang tampil. Munculnya empati ketika melihat teman memerankan tokoh yang sedih atau tertekan.
· Skenario yang Relevan: Penggunaan cerita yang dekat dengan keseharian mereka (contoh: Dituduh menyontek, Dijauhi teman geng, Dimarahi orang tua karena nilai) membuat siswa mudah masuk ke dalam karakter.
B. Tantangan dan Kendala
· Manajemen Kelas: Suasana kelas VII E sempat menjadi sangat riuh (gaduh) karena antusiasme berlebih saat adegan lucu. Hal ini membutuhkan kemampuan manajemen kelas yang tegas namun humanis untuk mengembalikan fokus ke diskusi.
· Kecemasan Tampil: Pada awal sesi, beberapa siswa laki-laki merasa malu dan menganggap akting itu "aneh". Diperlukan dorongan ekstra dan ice breaking yang panjang untuk mencairkan suasana.
C. Pelajaran Berharga (Lesson Learned)
Melalui Best Practice ini, penulis menyadari bahwa:
"Siswa tidak membutuhkan guru yang hanya memberitahu cara bersabar, tetapi mereka butuh simulasi untuk merasakan bagaimana rasanya menahan diri dalam situasi panas."
Sosiodrama terbukti
menjadi jembatan yang efektif antara
teori kecerdasan emosi dengan
praktik nyata kehidupan sehari-hari siswa.
B. Simpulan
Berdasarkan hasil observasi pada murid kelas VII E, dampak spesifik dari sosiodrama meliputi:
1. Validasi Perasaan: Siswa menyadari bahwa merasa sedih, takut, atau cemas di lingkungan sekolah baru (SMP) adalah hal yang wajar. Ini mengurangi rasa terisolasi.
2. Cermin Diri: Saat menonton teman berakting marah-marah, siswa "penonton" menyadari betapa tidak nyamannya melihat orang yang tidak bisa mengontrol emosi. Ini menjadi refleksi diri (self-mirroring) yang efektif tanpa guru harus menceramahi.
3. Peningkatan Kosakata Emosi: Siswa memiliki vocabulary baru untuk mengungkapkan isi hati, sehingga mengurangi dorongan untuk bertindak agresif (fisik) karena mereka kini bisa mengungkapkannya secara verbal.
B. Saran
Berdasarkan simpulan di atas, beberapa saran yang direkomendasikan adalah:
1. Bagian ini merupakan perenungan penulis (Guru BK/Konselor) terhadap seluruh rangkaian kegiatan di SMP Kesatrian 1 Semarang. Siswa kelas VII E masih memiliki sisi "bermain" yang kuat. Metode drama yang aktif sangat cocok dengan karakteristik kinestetik mereka dibandingkan metode ceramah klasikal.
2. Bagi pihak sekolah, memfasilitasi ruang untuk mengekspresikan emosi para murid sehingga mereka akan lebih rileks Ketika berada di sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Ekman, P. (2003). Emotions Revealed: Recognizing Faces and Feelings to Improve Communication and Emotional Life. Times Books.
Goleman, D. (2009). Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional, Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ (Terjemahan). PT Gramedia Pustaka Utama.
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Erlangga.
Luft, J.
(1969). Of Human Interaction: The Johari
Window. National Press Books. Mulyatiningsih, E. (2011). Riset Terapan
Bidang Pendidikan dan Teknik. UNY Press.
Nurihsan, A. J. (2006). Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan. Refika Aditama.
Prayitno. (2017). Konseling Profesional yang Berhasil: Layanan dan Kegiatan Pendukung. Rajawali Pers.
Romlah, T. (2001). Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Universitas Negeri Malang Press.
Santrock, J. W. (2011). Adolescence (14th ed.). McGraw-Hill.
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta.
Tohirin. (2007). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Raja Grafindo Persada.
Winkel, W. S., & Sri Hastuti, M. M. (2004).
Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan. Media Abadi.
LAMPIRAN;








Comments
Post a Comment