Inovasi Guru; MEDIA BK BERBASIS EMOTIONAL EXPRESSION CARD

 EFEKTIVITAS MEDIA BK BERBASIS EMOTIONAL EXPRESSION CARD DALAM LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL UNTUK MENGENALI EMOSI DIRI PADA MURID KELAS VII SMP KESATRIAN 1 SEMARANG


Nur Oktaviani, S.Pd.

ABSTRACT

Early adolescence (the transition phase from elementary to junior high school) is a crucial period where 7th grade students often experience emotional instability (storm and stress), but have limited emotional vocabulary (emotional literacy) to express what they feel. Conventional classical guidance services that tend to be one-way are often less effective in facilitating a deep understanding of these various emotions. This Best Practice aims to describe the effectiveness of using innovative media Emotional Expression Cards in helping 7th grade students recognize and validate their own emotions. The method used in this innovative work is an interactive game through the implementation of classical guidance services with stages: introduction, card games and self-reflection. The application of Emotional Expression Card media in Guidance and Counseling services has proven effective in simplifying abstract emotional concepts. This media has succeeded in making it easier for 7th grade students to absorb the material on recognizing self-emotions, making the learning process more interesting and easy to understand. The learning media in the form of an interactive game Emotional Expression Card can produce a diagram of the Good Category increasing to 20%, the Fair Category 16%, the Less Category decreasing to 2%, the Bad Category to 0%, the Very Bad Category 0%. This proves that the use of Emotional Expression Card media has a positive impact on BK services, where 7th grade students are able to understand the material on recognizing self-emotions more easily, quickly, and enjoyably compared to conventional methods.

Keywords: Emotional Expression Card, Classical Guidance, Self-Emotion, Guidance and Counseling Media, Seventh-Grade Students.


BAB 1 PENDAHULUAN

 1.1  Latar Belakang Masalah

    Perkembangan emosi pada anak sekolah menengah pertama merupakan aspek penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan belajar, kemampuan bersosialisasi, serta pembentukan karakter. Pada usia ini, anak sedang berada pada tahap perkembangan di mana mereka mulai belajar mengenali berbagai perasaan dan bagaimana mengekspresikannya. Namun, kenyataannya masih ada sebagian murid yang mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengelola emosi, seperti marah, sedih, kecewa, atau cemas. Emosi merupakan bagian integral dari perkembangan remaja, yang sangat memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi tantangan kehidupan, termasuk di lingkungan sekolah. Pada masa remaja, banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi mereka, terutama ketika menghadapi tekanan akademik, persaingan sosial, atau masalah pribadi. Ketidakmampuan dalam mengelola emosi dapat berdampak pada performa akademik, hubungan sosial, serta kesejahteraan mental mereka. Emosi adalah respons psikologis yang kompleks yang dipicu oleh pengalaman internal maupun eksternal dan dapat memengaruhi perilaku serta keputusan seseorang. Menurut Gross (2002), emosi adalah respons terhadap situasi yang dianggap signifikan bagi individu dan dapat memengaruhi cara mereka berpikir, merasa, dan bertindak. Dalam konteks remaja, berbagai emosi seperti marah, cemas, bahagia, dan sedih sering kali muncul dengan intensitas yang tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, emosi tersebut dapat menimbulkan dampak negatif, seperti perilaku agresif, kesulitan belajar, atau bahkan masalah kesehatan mental.

    Berbeda dari penelitian sebelumnya yang lebih banyak menggunakan pendekatan tradisional dalam pendidikan emosional, penelitian ini mengusulkan penggunaan berbantu media BK berbasis "Emotional Expression Card" sebagai media BK yang lebih interaktif, menyenangkan, dan kontekstual bagi murid. Emotional Expression Card (Kartu Ekspresi Emosi) yang mengadaptasi elemen-elemen permainan interaktif seperti gambar wajah ekspresi emosi marah, senang, sedih, kecewa, menangis dllnya yang diyakini dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan aktif murid dalam proses pemberian layanan BK di kelas, termasuk dalam aspek pengenalan emosi diri pada murid kelas VII di SMP Kesatrian 1 Semarang. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena pengenalan emosi diri yang efektif sangat berperan dan menjadi sebuah dasar dalam mendukung perkembangan sosial, emosional dan akademik pada masa remaja. Mengingat permasalahan pengenalan emosi diri yang dihadapi murid di SMP Kesatrian 1 Semarang, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana efektivitas penggunaan media BK berbasis Emotional Expression Card (Kartu Ekspresi Emosi) dapat membantu murid kelas VII dalam memahami, mengenali dan mampu mengekspresikan emosi diri mereka dengan baik.

    Dengan menggunakan berbantu media BK berbasis Emotional Expression Card ini diharapkan murid kelas VII dapat lebih memahami perasaan mereka, mengurangi impulsifitas dalam merespons perasaan negatif kepada diri sendiri maupun orang lain. Selanjutnya, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana layanan Bimbingan Klasikal dengan berbantu media BK berbasis Emotional Expression Card ini dapat meningkatkan kemampuan murid dalam memahami, mengenali dan mengekspresikan emosi mereka dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

1.2  Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil pengamatan, wawancara dan evaluasi proses layanan sebelumnya, ditemukan beberapa masalah utama yang melatarbelakangi perlunya disusun penelitian karya inovasi pembelajaran ini:

1. Rendahnya keterbatasan kosakata dalam membedakan berbagai jenis emosi mereka kepada orang lain maupun diri sendiri

2. Adanya   hambatan    untuk   mengekspresikan    perasaan    emosi,   lebih cenderung memendam perasaan emosi dan sebagian mengekpresikannya melalui sosial media

3. Rendahnya kesadaran diri yang muncul dari emosi negatif yang tidak terkelola dengan baik.

1.3  Pembatasan Masalah

Agar penelitian dalam Best Practice ini lebih terarah, fokus dan mendalam, penulis membatasi ruang lingkup permasalahan sebagai berikut:

1.    Subyek Layanan (Murid)

    Fokus subjek dalam Best Practice ini adalah murid kelas VII D di SMP Kesatrian 1 Semarang pada Tahun Ajaran 2025/2026. Pemilihan subjek ini didasarkan pada karakteristik murid kelas VII yang berada pada masa transisi remaja awal dan menunjukkan urgensi kebutuhan aspek kematangan emosi.

2.    Lingkup Materi Layanan (Topik)

    Masalah dibatasi pada aspek “Pengenalan Emosi Diri” (Self-Emotion Recognition)

3.    Media Inovasi yang digunakan dibatas secara spesifik pada “Emotional Expression Card”, dikarenakan kartu ini merupakan alat bantu visual serta untuk permainan interaktif bagi murid kelaa VII yang memuat gambar ekspresi wajah dan kosakata emosi

4.    Jenis layanan BK. Implementasi dilakukan melalui layanan Bimbingan Klasikal. Kegiatan dilaksanakan di dalam kelas secara terjadwal (sesuai jam masuk kelas BK). Strategi yang digunakan adalah perpaduan antara permaian (games) dan refleksi diri.

5.    Indikator Keberhasilan

Efektivitas media bk diukur berdasarkan perubahan yang dapat diamati secara langsung di kelas, yaitu:

·         Peningkatan partisipasi aktif murid dalam menyebutkan jenis emosi.

·         Kemampuan murid membedakan nuansa emosi (misal: beda antara "marah" dan "kecewa") termasuk dalam emosi positif, negataif atau emosi jenis campuran.

1.4  Strategi Pemecahan Masalah

    Untuk mengatasi permasalahan kurangnya pemahaman pengenalan emosi diri pada murid kelas VII, penulis menerapkan tiga strategi utama dengan mengoptimalkan fungsi layanan bimbingan klasikal dengan berbantu media bk berbasis emotional expression card (kartu ekspresi emosi):

1.      Strategi visualisasi konkret digunakan untuk memperkaya kosakata emosi murid melalui permainan interaktif gambar kartu emosi.

2.      Strategi proyeksi diri digunakan untuk memfasilitasi murid yang tertutup agar mampu mengekspresikan diri tanpa rasa takut.

3.      Strategi refleksi terbimbing digunakan untuk menanamkan pemahaman bahwa pengenalan emosi diri akan dapat dikelola dengan baik.

1.5  Tujuan Penelitian

1.5.1  Tujuan Umum

    Meningkatkan kualitas layanan Bimbingan Klasikal dan membantu murid kelas 7 SMP Kesatrian 1 Semarang dalam mengenali serta memahami ragam emosi melalui pemanfaatan media inovatif.

1.5.2  Tujuan Khusus

Secara spesifik, penulisan Best Practice ini bertujuan untuk:

1. Mendeskripsikan Penerapan: Menjelaskan langkah-langkah penggunaan media permianan interaktif berbasis Emotional Expression Card dalam layanan bimbingan klasikal untuk topik pengenalan emosi diri.

2.    Mengetahui Efektivitas: Mengukur peningkatan kemampuan murid kelas 7 dalam mengidentifikasi dan menamai jenis-jenis emosi yang dirasakan setelah penggunaan media Emotional Expression Card.

3.    Menganalisis Partisipasi: Melihat respon dan keterlibatan aktif murid selama proses layanan bimbingan klasikal berlangsung dengan bantuan media visual tersebut.

1.6  Manfaat PenelitianHasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat secara teoritis maupun manfaat secara praktis.

1.6.1  Manfaat TeoritisMenambahkan keilmuan dalam Bimbingan dan Konseling, khususnya sebagai referensi pengembangan media visual (Emotional Expression Card) dalam layanan dasar untuk meningkatkan kecerdasan emosional remaja awal.

1.6.2  Manfaat Praktis

Ø  Bagi Murid:·       Membantu murid mengenali dan menamai emosi yang dirasakan secara lebih spesifik.

·       Memudahkan murid mengekspresikan perasaan yang abstrak menjadi konkret tanpa rasa takut.

·       Menciptakan pengalaman layanan BK yang menyenangkan, interaktif, dan tidak membosankan.

Ø  Bagi Guru BK (Konselor):

  • Meningkatkan kreativitas dan profesionalisme dalam menyusun layanan bimbingan klasikal.
  • Menyediakan alternatif media layanan yang efektif untuk mengatasi pasifnya siswa di kelas.
  • Mempermudah proses asesmen kebutuhan emosional siswa di kelas.
  • Mendukung terciptanya iklim sekolah yang ramah dan empatik melalui peningkatan kesadaran emosi siswa.
  • Menjadi dokumen praktik baik (Best Practice) yang dapat diadaptasi oleh rekan sejawat lainnya. 
Dibawah ini penulis akan menyajikan data perbandingan Efektivitas Layanan Bimbingan Klasikal Sebelum dan Sesudah Penggunaan Emotional Expression Card (kartu ekspresi emosi) di ruang kelas VII D

Ø  Bagi Sekolah:

BAB II. PEMBAHASAN

2.1. Landasan Teori

A. Media BK berbasis Emotional Expression Card (Kartu Ekspresi Emosi)

 1.  Pengertian Media Pembelajaran

    Menurut Trini Prastati (2005), media adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi kepada orang yang menerimanya dari sumber informasi. Sementara itu, Sutirman (2013) menyebut media pembelajaran sebagai alat elektronik, grafis, dan fotografis yang dapat digunakan untuk mengumpulkan, memproses, dan menyusun kembali informasi verbal atau visual.

    Menurut Aisyah Fadilah, media pembelajaran adalah sarana yang digunakan untuk mendukung kelancaran dan efektivitas proses belajar mengajar. Di era saat ini, metode pembelajaran tidak lagi terbatas pada buku teks dan papan tulis, karena tersedia beragam jenis media yang dapat dimanfaatkan oleh pendidik. Pemanfaatan media tidak hanya meningkatkan minat belajar, tetapi juga membantu peserta didik dalam memahami materi secara lebih optimal.

    Media pembelajaran menurut Andi Kristanto adalah segala bentuk alat atau sarana yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau bahan ajar, sehingga mampu menarik perhatian, membangkitkan minat, serta merangsang pikiran dan perasaan siswa dalam proses belajar demi mencapai tujuan pembelajaran. Media ini dirancang untuk mendukung pemahaman materi secara lebih mudah dan menyenangkan bagi siswa. Media pembelajaran juga dapat membantu guru dalam menyampaikan informasi secara lebih terstruktur dan menarik, sehingga siswa lebih fokus dan terlibat dalam proses belajar. Azhar Arsyad (2011: 2-3) menyatakan bahwa guru perlu menggunakan teknologi sebagai sarana atau alat bantu dalam pengajaran. Penggunaan media menjadi pilihan yang menarik bagi guru untuk meningkatkan ketertarikan siswa dalam belajar. Dengan adanya media pembelajaran, siswa akan semakin termotivasi untuk belajar (Amanda, Reffiana, dan Ariyanto, 2019; Heru dan Yuliani, 2020).

 

No

Aspek yang Diamati

Kondisi Awal (Metode Konvensional/ Ceramah)

Kondisi Akhir (setelah menggunakan metode

Permainan Kartu Emosi)

1.

Literasi Emosi (Kosakata)

Sangat Terbatas. Murid hanya menggunakan kata umum: senang, sedih, marah, “biasa saja”, “nggak tahu”.

Meningkat  &  Spesifik.

Murid mampu

menggunakan kata: kecewa, cemas, bangga, terharu, bersalah, antusias, bingung,

dll.

2.

Partisipasi Siswa

Pasif. Hanya 2-3 siswa yang aktif menjawab. Siswa cenderung diam jika ditanya tentang perasaan pribadi.

Aktif & Antusias. Hampir 90% siswa berebut ingin mencoba permainan kartu ekspresi emosi, memberikan pendapat tentang gambar emosi serta mampu membedakan untuk menempelkan kartu ekspresi emosi sesuai di jenis emosi

yang berbeda beda.

3.

Hambatan Psikologis

Tinggi (Resistensi). Siswa malu, takut, atau gengsi untuk terbuka karena merasa                                sedang diinterogasi.

Rendah (Proyektif). Siswa lebih berani terbuka karena merasa sedang "membahas kartu/gambar", bukan membahas aib diri sendiri secara langsung.

4.

Suasana Kelas

Kaku & Membosankan. Cenderung satu arah (guru ke siswa).

Hidup & Menyenangkan. Terjadi interaksi dua arah (siswa ke siswa, siswa ke guru) dengan diselingi tawa

dan diskusi hangat.

5.

Kemampuan Validasi DiriRendah.

Rendah. Siswa bingung dengan                        perasaannya sendiri dan cenderung menyangkal (denial).

Meningkat. Siswa mampu berkata: "Oh, ternyata perasaan yang saya rasakan tadi pagi itu namanya 'khawatir', bukan marah."


Berdasarkan hasil data perbandingan diatas, maka pentingnya penulis memberikan Layanan Bimbingan Klasikal melalui metode permainan interaktif berbantu media BK berbasis Emotional Expression Card agar murid kelas VII dapat mengenali emosi diri mereka sejak dini. Sehingga diharapkan melalui pemberian permainan interaktif berbantu media BK kartu ekspresi emosi tersebut dapat memberikan pengalaman belajar yang menarik dan menyenangkan dan dapat memudahkan murid kelas VII menerima dan memahami materi layanan terkait pengenalan emosi diri yang disampaikan oleh guru BK di ruang kelas.

 2.2. Layanan Bimbingan Klasikal

1.  Pengertian Layanan Bimbingan Klasikal

Secara teori aktifitas bimbingan dan konseling meliputi layanan orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran, layanan bimbingan belajar, layanan konseling individu, layanan konseling kelompok, layanan bimbingan kelompok, dan bimbingan klasikal. Dari beberapa layanan tersebut menurut pandangan peneliti layanan yang cocok untuk mengatasi persoalan mengenai emosi diri siswa yakni layanan bimbingan klasikal. Menurut Gazda (Mastur dan Triyono, 2014) menjelaskan bahwa bimbingan klasikal merupakan layanan bantuan bagi siswa melalui kegiatan secara klasikal yang disajikan secara sistematis, dalam rangka membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal.

2.  Tujuan Layanan Bimbingan Klasikal

Kemendikbud (2016: 63) kegiatan layanan bimbingan klasikal bertujuan untuk membantu peserta didik/ konseli dapat mencapai kemandirian dalam kehidupannya, perkembangan yang utuh dan optimal dalam bidang pribadi, sosial, belajar dan karir, serta mencapai keselarasan antara pikran, perasaan dan tingkah laku.

3.  Fungsi Layanan Bimbingan Klasikal

Sukardi dan Kusumawati (dalam Miraz 2018:291) fungsi bimbingan klasikal adalah sebagai berikut:

a. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap diri dan orang lain.

b. Fungsi pencegahan, yaitu fungsi bimbingan yang akan menghasilkan tercegahnya atau terhindarinya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul, yang dapat menganggu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.

c. Fungsi pengentasan, yaitu fungsi bimbingan yang akan menghasilkan terentasnya permasalahan sosial yang dialami oleh peserta didik.

d. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Diharapkan dapat berkembangnya dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.

Dalam penerapannya di ruang kelas, langkah awal peneliti dalam menyusun best practice ini, peneliti membuat Instrumen berupa kuis tentang Gambaran awal Emosi Diri untuk mengetahui apakah emosi yang dimiliki murid kelas VII berada pada taraf stabil atau tidak. Berikut instrumen kuis gambaran emosinya.

KUIS

MENGETAHUI GAMBARAN EMOSI ANDA

Untuk mengetahui gambaran emosimu saat ini, kamu dapat mengerjakan soal soal pernyataan di bawah ini dengan menulis angka 1 (satu) jika pernyataan tersebut sesuai dengan kondisimu saat ini dan angka nol (0) jika tidak sesuai dengan kondisimu saat ini. semua pernyataan di bawah ini menggambarkan emosi yang tidak stabil.

 

NO

 

PERNYATAAN

ALTERNATIF JAWABAN

SESUAI KONDISIMU (1)

TIDAK SESUAI KONDISIMU (0)

1.

Selalu merasa rendah diri jika berada ditengah orang banyak

 

 

2.

Mudah tersinggung oleh ucapan, sikap atau perubahan orang lain

 

 

3.

Selalu     ketakutan    bila     berada dalam kendaraan

 

 

4.

Takut berada di tempat yang gelap

 

 

5.

Mudahgembira, tetapi            mudah pula bersedih hati

 

 

6.

Sulit mengendalikan kemarahan

 

 

7.

Perasaan gembira selalu diucapkan dengan berlebihan

 

 

8.

Selalu murung jika di sekolah

 

 

9.

Mudah jatuh cinta

 

 

10.

Takut     berada    di     tempat keramaian(misalnya, di pasar)

 

 

11.

Takut mendapatkan giliran di dalam kelas

 

 

12.

Gemetar jika disuruh guru maju ke depan

 

 

13.

Selalu     tertawa    berlebihan (misalnya, hingga terlihat gigi bagian dalam)

 

 

 

14.

Ragu ragu terhadap teman, (misalnya, tidak  mudah  dengan  perkataan,  sikap, pekerjaan dan janji teman)

 

 

15.

Kesepian karena tidak punya teman

 

 

16.

Iri melihat teman berpasang pasangan

 

 

17.

Patah hati membuat sukar untuk mencintai

lawan jenis

 

 

18.

Merasa cemburu terhadap teman

 

 

19.

Bersikap egois

 

 

20.

Merasa emosi tidak stabil

 

 

 

21.

Sulit mengendalikan diri jika bersedih (misalnya, tidak mudah ceria, gampang merusak sesuatu, atau sikap negatif yang

lainnya).

 

 

22.

Sering menangis menjerit jerit

 

 

23.

Kalau sakit hati, sukar sembuhnya

 

 

24.

Terlalu     berani    dalam    mencoba                atau

melakukan apapun

 

 

25.

Tidak dapat konsentrasi belajar jika sedang

kecewa

 

 

26.

Malas belajar dan aktivitas lainnya jika

sedang sedih

 

 

27.

Kalau sedang marah, semua orang menjadi

sasaran kemarahan/kekesalan

 

 

28.

Marah jika orang lain mengkritik dengan

cara apapun

 

 

29.

Tidak  biasa  menerima  kegagalan  atau

kekalahan

 

 

30.

Saya tidak bisa melihat sisi positif dari

suatu masalah atau kejadian

 

 

Total Skor:

 

 


Penilaian

-    Hitung semua jawabanmu!

-    Jumlahkan jawabanmu, kemudian bagi dengan 30 dan kalikan 

100 % (𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛) 𝑥 100 %

30 

Misalnya: jumlah jawabanmu 21 = ( 21 = 21) 𝑥 100 % = 70 %

                                             30

                Ketentuan / standar sebagai berikut:

81 – 100%       = amat buruk

61 – 80%         = buruk

41 – 60%         = kurang

21 – 40%         = cukup

0 – 20%           = baik

Jadi, skormu = 70%, berarti kamu memiliki emosi yang relative buruk atau tidak stabil dan emosi harus diperbaiki.

                  Penilaian

-    Hitung semua jawabanmu!

-    Jumlahkan jawabanmu, kemudian bagi dengan 30 dan kalikan

100 % (𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛) 𝑥 100 %

30

Jumlah jawaban = ….

Penilaian

-    Hitung semua jawabanmu!

-    Jumlahkan jawabanmu, kemudian bagi dengan 30 dan kalikan 

100 % (𝑛 = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐽𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛) 𝑥 100 %

30 

Misalnya: jumlah jawabanmu 21 = ( 21 = 21) 𝑥 100 % = 70 %

30


Peneliti memberikan instrumen Kuis Gambaran Emosi Diri diatas kepada 32 murid di kelas VII D sebelum diberikannya media BK Emotional Expression Card (Kartu Ekpresi Emosi) dalam layanan Bimbingan Klasikal. Dari hasil instrumen yang sudah di isi, diketahui bahwa ada sebagian murid yang masih banyak masuk dalam kategori Baik 6%, Cukup 16%, Kurang 4%, Buruk 2% dan Amat Buruk 0%.

Peneliti berharap setelah diterapkannya pemberian layanan bimbingan klasikal menggunakan media permainan interaktif BK berbasis Emotional Expression Card kategori baik dapat meningkat prosentasenya, kategori kurang prosentasenya dapat menurun begitu juga dengan kategori buruk prosentasenya dapat menurut.
Maka dari itu etelah hasil diagram diatas peneliti membuat rencana pelaksanaan layanan (RPL Bimbingan Klasikal) sebagai dokumen pendukungnya dalam memberikan materi layanan tentang mengenali emosi diri bagi murid kelas VII di SMP Kesatrian 1 Semarang dengan menggunakan media BK Emotional Expression Card (Kartu Ekpresi Emosi) sebagai berikut:

BAB III

PELAKSANAAN DAN LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL

 

 3.1  Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal

Mengacu pada hasil data diagram sebelum diberikannya media permainan interaktif tersebut diatas maka peneliti membuat rencana pelaksanaan layanan (RPL Bimbingan Klasikal) sebagai dokumen pendukungnya dalam memberikan materi layanan tentang mengenali emosi diri bagi murid kelas VII di SMP Kesatrian 1 Semarang dengan menggunakan media BK Emotional Expression Card (Kartu Ekpresi Emosi) sebagai berikut:

DAFTAR PUSTAKA

Triyono, 2022. Materi Layanan Klasikal Bimbingan dan Konseling Pribadi-Sosial-Belajar- Karier. Paramitra Publising: Yogyakarta.

Nurbowo, B. 2022. Bimbingan dan Konseling “Kurikulum Merdeka”. Paramitra Publishing: Yogyakarta.

https://id.scribd.com/document/707332586/Modul-Layanan-BK-Mengenal-Mengendalikan- Emosi-Riska-Arum-A-S-Pd 

https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-singkawang/baca-artikel/15077/Mengenal-dan- Memvalidasi-Emosi.html 

https://www.gramedia.com/best-seller/pengertian emosi/?srsltid=AfmBOooZXp42LyVStHgBCf6JVccCfcOuIoSXTY- MObgAfh_n8npGue0v#Macam-macam_Emosi



Comments

Kunjungan

Flag Counter